Apakah Menghitung Kalori Masuk Itu Penting?

by - September 10, 2019

menghitung kalori
Sepenting apa menghitung kalori masuk?

Jika ingin menurunkan berat badan harus kalori defisit, sedangkan jika ingin menaikkan berat badan harus kalori surplus. Itu sudah aturan dasar dan WAJIB dipahami bagi kalian yang ingin mendapatkan badan ideal.

Hampir semua jenis makanan memiliki kalori. Per 1 gram lemak mengandung 9 kalori, per 1 gram protein dan karbohidrat mengandung 4 kalori. Sudah jelas kan jika makanan yang mengandung lemak yang banyak akan memiliki kalori yang tinggi. Yang menentukan rendah tingginya kalori adalah kandungan yang ada dalam makanan tersebut. Bisa jadi makanan yang walaupun bentuknya kecil, tapi memiliki kalori yang tinggi, contohnya saja tempe mendoan.


Tapiiiii... sama-sama tempe mendoan bisa memiliki jumlah kalori yang berbeda, tergantung dari cara memasaknya. Tempe mendoan yang dimasak dengan dicelup ke minyak tentu berbeda dengan yang dimasak menggunakan air fryer.

menghitung kalori
Bahan makanan dan cara memasak adalah koentji


Melihat makanan hanya sebagai kalori


Pernah ada fase di mana saya melihat makanan sebagai kalori. Setiap kali makan di luar rumah (yang bukan masakan saya), sebelum saya memutuskan makan apa, saya mikirnya lamaaaaaa banget, "Duh, jumlah kalorinya berapa ya?" Bahkan ketika di rumah pun ketika ingin ngemil sering kepikiran, "Hmmmm.. siang ini pengen es krim. Tadi sarapannya sudah berapa kalori ya?"

Taek banget rasanya, wokwokwok.

Menghitung kalori bisa jadi membuat kita memiliki hubungan yang buruk dengan makanan. Melihat makanan sebagai sesuatu yang memiliki efek negatif pada tubuh. Padahal fungsi sebenarnya dari makanan itu kan memberikan energi, membantu sel-sel dalam tubuh untuk bisa terus regenerasi, membantu kita berpikir lebih jernih. Jadi kalau kalian goblo jangan salahin micin, mungkin hanya kurang makan.... micin. Nggak ding! :))

Eh, btw saya sudah pernah tulis artikel tentang obsesi terhadap defisit kalori dan bagaimana cara mengatasinya.


menghitung kalori
Sampai kapan menghitung kalori?

Walaupun rasanya taek, tapi menghitung jumlah kalori yang masuk ke tubuh sangatlah penting. Ya, balik lagi ke aturan dasar, jika ingin menurunkan berat badan harus kalori defisit dan jika ingin menaikkan berat badan harus kalori surplus.

Ketika kita menghitung kalori, biasanya menggunakan alat bantu berupa aplikasi penghitung kalori seperti MyFitnessPal dan juga timbangan makanan. Ketika kita menimbang bahan makanan dan memperhatikan kalorinya, otomatis kita bisa lebih mengontrol makanan yang masuk ke dalam tubuh. Di dalam MyFitnessPal juga ada informasi kandungan nutrisi dari makanan yang kita lihat jumlah kalorinya sehingga kita juga jadi paham seberapa bagus kualitas dari makanan yang akan kita makan.

Tapi sampai kapan harus menghitung kalori? Sampai tidak jomblo lagi? Sampai beranak-pinak? Sampai kapan?

menghitung kalori
Contoh nutrisi dari makanan yang dikonsumsi Dek Mon

Saya ada tips agar menghitung kalori masuk tidak menjadi hal yang buruk dan kapan waktu yang tepat untuk menghitung kalori.

1. Jangan menghitung kalori di awal diet


Loh kok malah jangan? Di awal mulai diet, please jangan dulu menghitung kalori. Mulai saja dulu dengan mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk seperti mulai untuk rutin olahraga dan makanan sehat. Saya pernah tulis artikel tentang 5 langkah mudah untuk memulai diet. Saat diet, membangun kebiasaan atau habit itu sangat pentil. Kalau kebiasaan baik sudah mulai stabil dilakukan dan mulai menjadi lifestyle, baru deh mulai untuk menghitung kalori.

2. Pelajari kandungan nutrisi dalam makanan


Makanan nggak melulu soal kalori, tapi juga soal nutrisi. Semua makanan memiliki makro dan mikro nutrisi yang memiliki banyak manfaat untuk tubuh. Utamakan kualitas makanan terlebih dahulu, baru deh mikirin kalorinya. Kalau hanya memikirkan kalori, satu buah donat jumlah kalorinya bisa jadi lebih kecil dari jumlah kalori sepiring nasi dengan orak-arik sayur dan lauk dada ayam panggang. Tapi apa iya lebih pilih makan donat?

menghitung kalori
Nutrisi dalam makanan


3. Jangan jadikan kebiasaan


Kalau menghitung kalori sudah menjadi kebiasaan, kita nggak akan nyaman ketika dalam kondisi ingin makan tapi nggak bisa atau bingung menghitung kalori. Misalnya lagi di warteg nih. Beli tahu dan tempe, lalu pas pengen tracking kalori di MyFitnessPal bingung: Kira-kira ini tempenya beratnya berapa? Kira-kira ini tahunya digoreng pakai minyak seberapa banyak?

Ketika kita sudah terbiasa dalam kondisi yang sudah pasti dan bisa memperkirakan, rasanya nggak nyaman ketika kita harus membuat perkiraan yang kita sendiri nggak yakin. Harusnya, makan itu bikin kita bahagia, ha kok malah bikin bingung. Saya pernah dalam kondisi taek begitu. That's why menghitung kalori cukup 2-3 minggu saja.

Setelah 2-3 minggu, pasti kita akan hafal makanan apa saja yang kita makan dan seberapa banyak porsinya. Di minggu-minggu berikutnya kemungkinan besar kalori yang dikonsumsi ya bakal segitu-gitu aja.

"Tapi setelah nggak menghitung kalori malah berat badan naik!"

Ya kurangi saja porsi makannya. Dari yang tadinya ngemil sehari 2 kali, jadikan 1 kali saja. Atau ya buat memastikan lagi, bisa hitung kalori ulang. Ingat, berat badan naik lagi itu bukan kiamat, zheyenk. Kuncinya kenali diri sendiri dan nggak perlu takut trial and error.

Thank you for stopping by! :-*
Instagram: @monicaagustami | Email: monicaagustami@gmail.com

You May Also Like

2 komentar

  1. Jaman diet ketat aku selalu ngitung udah brp kaloru yg masuk ke tubuh, tiap kali mau makan mikir bgt ini bagus ga ya buat diet, lah tersiksa banget rasanya hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngitung kalori emang penting sih buat diet. Tapi memang harus lepas dari ketergantungan ngitung kalori biar nggak tersiksa. All about mindset siiih..

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...