Ketika Defisit Kalori Menjadi Sebuah Obsesi, How to Deal?

by - February 14, 2019

obsesi-defisit-kalori
Bayangkan Dek Mon beneran ada dua


Sebelum saya mulai obrolan ini, apakah kalian sudah membaca artikel saya tentang TDEE? Kalau belum, baca dulu ya agar bisa nyambung dengan tulisan kali ini. Isin ta kalau baca tulisan Dek Mon saja kalian ((NGAH NGOH))?

Baca juga: Pahami TDEE Demi Mendapatkan Bentuk Tubuh Impian



Sudah selesai membaca? Bagus. Saya juga sudah selesai rajang-rajang brambang.

Sudah paham kan kalau yang menyebabkan BB naik atau turun itu bukan makanan atau minuman tertentu? Perubahan BB terjadi karena defisit atau surplus kalori.

Jadi kalau kalian minum lemon setiap pagi atau bahkan skip makan malam lalu berat badan kalian turun, itu terjadi bukan karena lemonnya atau skip makan malamnya. Tapi karena tanpa kalian sadari, kalian mengalami defisit kalori. Apapun nama diet kalian, jika kalian mengalami penurunan berat badan, sudah pasti itu karena DEFISIT KALORI. Mau kalian keto diet, low carb, atau bla bla bla apapun itu jenis diet yang kalian jalani, kalau kalian defisit kalori sudah pasti berat badan kalian akan turun.

"Mau makan apapun bebas! Yang penting defisit kalori."

Sayangnya banyak sekali yang menjadi sangat terobsesi dengan yang namanya defisit kalori.

Tanda-tanda Terobsesi Dengan Defisit Kalori


1. Kalian nggak memperhatikan BMR (Basal Metabolic Rate) kalian, ((POKOKNYA)) yang penting defisit kalori. Kalian menjadi under eating. Sama nggak bagusnya dengan over eating, hanya efek-nya saja yang berbeda. Under eating bisa menyebabkan metabolisme menjadi turun dan tubuh malah jadi menyimpan lemak, bukan membakar lemak. Nggak mau kan kalau metabolisme sampai turun seperti gaji kalian?

obsesi-defisit-kalori
Sumber: www.ucnewsid.com

Tubuh membutuhkan jumlah energi tertentu untuk dapat "bekerja" dengan baik, bahkan ketika dalam kondisi koma (dinamakan dengan BMR). Setiap orang memiliki BMR yang berbeda tergantung dari banyak faktor. Kalau pacar kalian BMR-nya 1.200 kalori ya belum tentu BMR kalian juga 1.200 kalori. Kalau nggak punya pacar? Ya itu namanya jomblo, Bambang.

2. Hanya fokus pada kalori dalam makanan. Setiap melihat makanan langsung mikir, "Aduh, ini kalorinya berapa ya?" Kalau baru disodorin makanan saja sudah berpikir keras, gimana kalau nanti disodorin tagihan KPR? Atau yang lebih parah lagi, segala macam makanan yang direndam dalam minyak jelantah tetap kalian makan karena yang paling penting adalah defisit kalori. Kalori, kalori, dan kalori.

Coeq. Tubuh membutuhkan lemak baik, karbohidrat, lemak baik, dan juga vitamin untuk bisa bekerja dengan baik. Kalau masih asal makan, bagaimana nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh kalian dapat terpenuhi? Selama makanan itu memiliki nutrisi yang baik untuk tubuh, makanlah. Jika nutrisinya kurang baik untuk tubuh tapi bikin bahagia, makanlah.... secukupnya.

obsesi-defisit-kalori
Makanan lebih dari sekedar kalori


3. Merasa bersalah saat nggak bisa olahraga. Pernah nggak merasa sedih ketika kalian melewatkan jadwal olahraga kalian? Mungkin karena lagi sakit, atau ya... karena merasa badannya lagi capek kerjaan. Dengerin tubuh kalian, nggak usah dengerin bujukan setan.

Atau kalian tipe yang olahraga setiap hari? Kalau mampu sih nggak masalah ya, yang penting kalian kuat saja. Tubuh itu membutuhkan istirahat loh, Jono. Bahkan, kurang istirahat dapat membuat proses penurunan berat badan menjadi terhambat. Saya pun nggak setiap hari olahraga kok, saya olahraga 4 kali dalam seminggu. Ya, saya merasa setiap kali olahraga udah "gila-gilaan", saya jadi merasa tubuh saya butuh waktu lebih juga untuk istirahat.

Pernah merasakan yang namanya over training? SAYA PERNAH. Gara-gara saya merasa bersalah kalau nggak olahrga, saya jadi memaksakan diri. Eh sumpeh ye, rasanya over training nggak enak banget. Badan rasanya pegel setiap hari dan tidur pun nggak nyenyak karena berasa ototnya "membengkak". Kebayang nggak sih? Ya, pokoknya nggak enak lah rasanya. Emoh meneh :(

How to Deal?

Terus gimana caranya biar body goal tetap tercapai tapi juga tetap bahagia bisa menikmati hidup?

1. Terapkan gaya hidup yang seimbang


Bagi saya definisi healthy lifestyle adalah gaya hidup yang seimbang, sehat fisik dan juga sehat mental. Menyehatkan fisik dengan cara makan makanan yang menyehatkan (bisa cek resep masakan sehat ala Dek Mon) dan juga olahraga rutin, jogging setiap sore misalnya. Nggak suka jogging? Cari olahraga lain! Masih banyak pilihan olahraga selain jogging. Ada zumba, sepeda, muaythai, dan juga olahraga di ranjang. Maksudnya sit up, push up di ranjang. Gitu.

Lalu masalah mental. Saya sih percaya kalau kesehatan mental datang dari istirahat yang cukup dan juga... MAKANAN! Ya contohnya dengan makan makanan yang jadi kecintaan kita. Suka coklat? Suka roti keju? Suka Oreo? Suka Pocky? Makan saja! Nggak mungkin lah kita bisa 7x24 jam makan "makanan sehat". Yang perlu diingat adalah makan secukupnya saja, bukan sepuasnya. Manusia nggak akan pernah merasa puas ta. Saya paling suka Pejoy yang matcha, btw. Lebih enak dari Pocky!

Baca juga: 7 Tips Memilih Makanan Kemasan

Kalau kita sudah terbiasa makan makanan sehat, kita bakalan lebih gampang menahan nafsu makan makanan ((begituan)). Saya pun kalau disodorin coklat walaupun saya suka banget, tapi kalau nggak pengen ya nggak akan saya makan saat itu juga. Sekali makan ya, satu serving sudah cukup. Menerapkan gaya hidup sehat beneran bisa membantu menekan nafsu makan saya. Mmmm.. bukan menekan sih, tapi lebih ke membantu mengontrol nafsu makan saya. Gidu.

2. Yang tahan lama, lebih baik


Bukan "tahan lama" untuk urusan yang lain ya, Bunda. Ini masih ngomongin healthy lifestyle, belum ganti topik.

Kalau ditanya, "Nggak bosen makan sehat gitu terus?" Ya, gimana bisa bosen wong makanan sehat saya lebih mevvah dan enak dari makanan kalian. Tul? Saya masih makan pizza kok, mi ayam, tempe mendoan, dan kawan-kawannya. Tapi tetap saya batasi ya. Jadi ya saya nggak bakalan ngidam tempe mendoan sampai ngeces. Lah wong saya juga masih makan.

Gampangannya gini deh, saya tahu kalian itu malas untuk mikir, bisa mikir saja sudah sujud syukur. Kan? Gini, bayangkan kalian bahagia menjalani lifestyle kalian mulai dari pola makan sampai dengan jadwal olahraga kalian, kalian pasti bakalan lebih betah dalam menjalani healthy lifestyle. Kalau kalian betah, healthy lifestyle bisa berlangsung lebih lama, bahkan sampai tua nanti. Kalau kalian sudah ngerasa nyaman, sehat fisik dan mental, untuk mencapai defisit kalori akan lebih mudah karena kalian nggak akan merasa terpaksa. Tubuh kita akan menjadi fat burner dengan sendirinya.

3. Nikmati proses, setel kendo


Saya pribadi nggak punya deadline kapan saya bisa dapat perut yang ada garisnya. Lah wong menikah saja saya nggak punya deadline kok. Masih ada hari esok, esoknya, dan esoknya lagi. Yang terpenting ya do my best. Eating healthy as much as possible, workout as much as possible. Tapi kalau kalian punya deadline tertentu dan bisa mencapainya, that's good!

Berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Setiap orang punya pengalamannya sendiri. Kalau ada yang bisa mendapatkan perut sixpack hanya dalam waktu 1 tahun ya, biarkan saja. Jadikan sebagai motivasi. You have your own journey.

Have fun!

obsesi-defisit-kalori
Happy with my lifestyle!


Thank you for stopping by! :-*
Instagram: @monicaagustami | Email: monicaagustami@gmail.com

You May Also Like

0 komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...